Jumat, 12-04-2024
  • Assalaamu'alaikum, Selamat Datang di Laman Resmi MTSS Nurul Islam Wuluhan

Pengertian Ikhlas dan Perintah beramal Ikhlas

Diterbitkan :


Pengertian Ikhlas dan Perintah beramal Ikhlas

Akhlak terpuji kepada Allah swt. Menurut ajaran islam, tuntunan akhlak adalah ajaran islam itu sendiri. Islam mengajarkan tentang hubungan manusia denga Allah swt, dengan sasama manusia, maupun dengan sesama makhluk. Demikian pula dengan tuntunan akhlak. Tidaklah cukup apabila manusia hanya mempunyai kahlak terpuji hanya kepada sesama manusia saja. Maka dai itu dalam posting kali ini kita akan membahas tentang empat macam akhlak terpuji terhadap Allah swt, yaitu ikhlas, taat, khauf, dan tobat.

Pertama kita akan membahas tentang ikhlas. Islam mengajarkan pada umatnya agar beramal scara ikhlas, tidak mencampurnya dengan niat lain. Lalu apa yang dimaksud dengan pengertian ikhlas itu?

Pengertian ikhlas

Kata ikhlas berasal dari bahasa Arab, yang berarti memurnikan niat hanya semata-mata kepada Allah swt. Setiap muslim dididik untuk berbuat ikhlas dalam melakukan segala hal. Nah, orang yang beramal secara ikhlas disebut mukhlis. Hanya dengan niat yang ikhlaslah, amalan baik seseorang itu akan diterima di sisi Allah swt, sebagaimana firman Allah swt dalam Al Quran surat 6 al An’am ayat 162 sebagai berikut.

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,. QS al-An’am (6: 162).

Perintah untuk beramal ikhlas

Seorang muslim yang selalu beramal baik, akan tetapi tidak ikhlas dalam melakukannya, maka ia akan merugi. Karena Allah swt tidak akan menerima amal tersebut. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah swt berfirman.

Aku adalah sebaik-baik sekutu (teman). Barang siapa yang mempersekutukan Aku bersama yang lain, dia (diserahkan) kepada sekutu itu. Wahai sekalian manusia, ikhlaskan amalmu karena Allah karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal seseorang, kecuali amal yang diikhlaskan kepada-Nya. (HR. al-Bazzar)

Dari hadis di atas dapat kita pahami bahwa seberapa banyak amal yang dilakukan seseorang, akan tetapi niatnya tidak ikhlas, maka amal tersebut akan sia-sia, dan tidak akan memperoleh pahala dari Allah swt.

Dalam hadis yang lain, Rasulallah saw bersabda.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ ابْنُ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ يَعْنِي الثَّقَفِيَّ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ سُلَيْمَانُ بْنُ حَيَّانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا حَفْصٌ يَعْنِي ابْنَ غِيَاثٍ وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كُلُّهُمْ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ بِإِسْنَادِ مَالِكٍ وَمَعْنَى حَدِيثِهِ وَفِي حَدِيثِ سُفْيَانَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ عَلَى الْمِنْبَرِ يُخْبِرُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab telah menceritakan kepada kami Malik dari Yahya bin Sa’id dari Muhammad bin Ibrahim dari ‘Alqamah bin Waqash dari Umar bin Khattab dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya ia akan mendapatkan sesuatu yang diniatkannya, barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya untuk memperoleh dunia atau seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir telah mengabarkan kepada kami Laits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Abu Ar Rabi’ Al Ataki telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab -yaitu Ats Tsaqafi-. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar Sulaiman bin Hayyan. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Hafsh -yaitu Ibnu Ghiyats- dan Zaid bin Harun. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala Al Hamdani telah menceritakan kepada kami Ibnu Mubarak. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan semuanya dari Yahya bin Sa’id dengan sanad makna seperti riwayat Malik. Dan dalam haditsnya Sufyan disebutkan, ‘Saya mendengar Umar bin Khattab di atas mimbar mengabarkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR Muslim nomor 3530 dari Umar bin Khattab)

Walaupun hadis di atas berkaitan dengan niat hijrah yang dilakukan kaum muslimin saat itu, akan tetapi berlaku pula bagi semua amal baik yang dilakukan manusai, baik pada masa Rasulallah saw masih hidup maupun pada masa sekarang, bahkan hingga akhir zaman.

Apabila niatnya murni karena Allah swt semata, maka amalan tersebut akan diterima di sisi Allah swt dan mendapatkan pahala yang besar dari sisi-Nya. Seorang muslim yang beramal baik namun tidak ikhlas, maka ia akan merugi karena Allah swt tak akan menerima amal tersebut.

Dampak positif beramal secara ikhlas.

Seorang muslim harus yakin bahwa setiap perintah agama memiliki dampak yang positif. Beberapa dampak positif beramal secara ikhlas atnatar lain.

  1. Memperoleh kepuasan batin, karena merasaka bahwa kebaikan yang dilakukan sesuai dengan perintah Allah swt.
  2. Merasa bahagia karena adanya harapan mendapat rida dari Allah swt.
  3. Dapat menjaga keistiqomahan didalam berbuat kebaikan, meskipun amal baiknya tidak diketahui oleh orang lain.

Membiasakan diri beramal secara ikhlas.

Beramal secara ikhlas harus menjadi karakter bagi setiap muslim. Untuk menjag keikhlasan tersebut dapat mengupayakannya dengan hal-hal berikut.

  1. Melatih diri agar tidak merasa bangga apabila perbuatan baiknya dipuji oleh orang lain.
  2. Tidak merasa kecewa apabila perbuatan baiknya diremehkan orang lain.
  3. Melatih diri agar beramal baik saat tidak dilihat orang lain, misalnya bersedekah dengan cara sembunyi-sembunyi.
  4. Tidak suka memuji perbuatan baik yang dilakukan seseorang karena hal terebut dapat mendorong pada perbuatan riya.

Demikianlah pembahasan tentang pengertian ikhlas dan perintah untuk beramal ikhlas, untuk menambah wawasan anda juga dapat membaca postingan sebelumnya tentang Sifat Ma’ani dan Sifat Ma’nawiyah Allah swt. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis : Kepala Madrasah

Editorial Lainnya

Sekapur Sirih

Dibaca : 16 kali



Jl. Panglima Besar Sudirman No. 133 Lojejer, Wuluhan, Jember, Jawa Timur, ID. 68162

mtsnuris27@gmail.com
www.mtsnuris.sch.id
(0336) 7124001

Agenda